KONSEP PROSES KEPERAWATAN

Posted in Lecturer Notes on March 10, 2009 by masperawat

A.      Sejarah

Proses keperawatan merupakan sebuah metode yang diterapkan dalam praktek keperawatan. Ia juga merupakan sebuah konsep dengan  pendekatan problem solving yang memerlukan ilmu, teknik, dan keterampilan interpersonal untuk memenuhi kebutuhan klien/keluarganya.

Proses keperawatan pertama kali dijelaskan oleh Hall pada tahun 1955. Selanjutnya proses keperawatan ini mengalami perkembangan sebagai berikut:

TAHUN

TOKOH

PERKEMBANGAN

1967

Yura & Walsh

Penjabaran proses keperawatan menjadi 4 proses, yaitu: pengkajian, perencanaan, pelaksanaan, dan evaluasi

1973

Publikasi proses keperawata semakin meningkat

ANA

Menggunakan proses keperawatan sebagai pedoman dalam pengembangan standar praktek keperawatan.

1974

Bloch

Memberi tambahan proses keperawatan menjadi 5 tahapan yaitu: pengkajian, diagnosis, perencanaan, pelaksanaan, evaluasi.

1975

Roy

1976

Aspinal

Seiring berkembangnya waktu, proses keperawatan telah dianggap sebagai dasar hukum praktek keperawatan dan telah digunakan sebagai kerangka konsep kurikulum keperawatan. Bahkan saat ini definisi dan tahapan keperawatan telah digunakan sebagai dasar pengembangan praktek keperawatan, sebagai kriteria dalam program sertifikasi, dan standar aspek legal praktek keperawatan. 

B.      Definisi

Proses keperawatan dapat didefenisikan berdasarkan tiga dimensi yaitu: tujuan, organisasi, dan property/karaktersitik.

1.       Tujuan

Tujuan proses keperawatan secara umum  adalah membangun kerangka konsep untuk memenuhi kebutuhan individu klien, keluarga, dan masyarakat.

Sedangkan menurut Yura dan walsh (1983), proses keperawatan merupakan suatu tahapan desain tindakan yang digunakan untuk memenuhi tujuan keperawatan, antara lain:

·         Mempertahankan kondisi kesehatan optimal pasien

·         Melakukan tindakan  untuk mengembalikan kondisi pasien menjadi normal kembali

·         Memfasilitasi kualitas kehidupan yang maksimal berdasarkan kondisi pasien sehingga ia bisa mencapai derajat kehidupan yang baik

2.       Organisasi

Berdasarkan dimensi organisasi, proses keperawatan dikelompokan menjadi 5 tahap, yaitu: pengkajian, diagnosa, perencanaan, pelaksanaan, dan evaluasi. Kelima tahapan ini merupakan proses terorganisir yang mengatur pelaksanaan asuhan keperawatan berdasarkan rangkaian pengelolaan  klien secara sistematik

3.       Karekteristik

Terdapat 6 karakteristik dari proses keperawatan itu, antara lain:  (1) tujuan, (2) sistematik; (3) dinamik; (4) interaktif; (5) Fleksibel; dan (6) Teoritis. Penjabaran dari karakteristik tersebut dapat dilihat, berikut ini:

1)      Tujuan : memiliki tujuan jelas yaitu untuk meningkatkan kualitas asuhan keperawatan pada klien

2)      Sistematik: menggunakan pendekatan yang terorganisir dalam mencapai tujuan. Sehingga dapat meningkatkan kualitas pelayanan serta menghindari terjadinya kesalahan

3)      Dinamik: proses keperawatan dilakukan secara berkesinambungan. Serta ditujukan untuk  mengatasi perubahan respon klien yang diidentikan melalui hubungan antara perawat dengan klien

4)      Interaktif: proses keperawatan memiliki dasar hubungan yaitu hubungan timbal balik antara perawat, klien, keluarga, dan tenaga kesehatan lain.

5)      Fleksibel: fleksibilitas proses keperawatan ini dapat dilihat dalam dua konteks, yaitu:

a.       Dapat diadopsi dalam praktek keperawatan dalam situasi apapun, baik dalam kaitannya dengan individu, keluarga, atau masyarakat

b.      Tahapannya dapat dilakukan berurutan sesuai dengan persetujuan kedua belah pihak.

6)      Teoritis : setiap langkah dalam keperawatan selalu berdasarkan pada konsep ilmu keperawatan.

Berdasarka karakter teoritis ini, maka asuhan keperawatan pada klien hendaknya menekankan pada tiga aspek penting, antara lain

a.       Humanistic : memandang dan memperlakukan klien sebagai manusia

b.      Holistic : intervensi keperawatan harus memenuhi kebutuhan dasar manusia secara utuh, yakni bio-psiko-sosio-spiritual.

c.       Care: asuhan keperawatan yang diberikan hendaknya berlandaskan pada standar praktek keperawatan dank ode etik keperawatan.

 

C.      Implikasi

Penerapan proses keperawatan memberikan dampak atau implikasi terhadap profesi keperawatan, klin dan perawat itu sendiri.

1.       Profesi

Secara professional, profesi keperawatan melalui 5 tahapan menyajikan lingkup praktik keperawatan yang secara terus menerus mendefinisikan perannya baik terhadap klien maupun profesi kesehatan lainnya.

Dengan demikian perawat bekerja melakukan sesuatu bukan hanya sekedar melaksanakan perintah dokter, melainkan melalui perencanaan keperawatan yang matang.

2.       Klien

Proses keperawatan mendorong klien dan keluarga berpartisifasi aktif dan terlibat ke dalam  5 tahapan proses tersebut.

Selama pengkajian, klien menyediakan informasi yang dibutuhkan, selanjutnya memberikan validasi diagnosa keperawatan, dan menyediakan umpan balik selama evaluasi.

3.       Perawat

Beberapa hal yang dapat diperoleh dari proses keperawatan, antara lain:

a.       Meningkatkan kepuasan dan perkembangan profesionalisasi perawat

b.      Meningkatkan hubungan antara klien dengan perawat.

c.       Meningkatkan pengembangan kreativitas dalam penyelesaian masalah klien.

D.      Teori yang mendasari

1.       Teori sistem

Sistem terdiri dari: tujuan proses dan isi

a.       Tujuan adalah sesuatu yang harus dilaksanakan, sehingga dapat memberikan arah pada sistem.

b.      Proses adalah sesuatu yang berfungsi dalam memenuhi tujuan yang hendak dicapai

c.       Isi  merupakan bagian atau elemen yang membentuk sebuah sistem.

Keterkaitan antara teori sistem dengan proses keperawatan dapat dijelaskan dalam gambar berikut ini:

OUTPUT

INPUT

FEEDBACK

 

 
   

 Input merupakan kumpulan data hasil pengkajian data beserta permasalahannya, yang diikut dengan perencanaan dan tindakan keperawatan yang tepat. Sedangkan output menunjukan hasil dari tindakan yang telah dilaksanakan. Selanjutnya feedback merupakan proses pengkomunikasian output terhadap sistem sehingga dapat dievaluasi dan memberikan arah untuk pelaksanaan selanjutnya.

Dalam sistem keperawatan dijelaskan bahwa perawat sebagai individu dan klien (individu, keluarga, masyarakat) melakukan interaksi dan saling mempengaruhi satu sama lain.

2.       Teori kebutuhan manusia

Teori ini memandang bahwa manusia merupakan bagian integral yang berintegrasi satu sama lain dalam memotivasi untuk memenuhi kebutuhan dasar hidupnya (fisiologis, kasih sayang, harga diri, dan aktualisasi diri.

Pada dasarnya kebutuhan dasar manusia merupakan terpenuhinya tingkat kepuasan agar manusi bisa mempertahankan hidupnya dan perawatlah yang berperan untuk memenuhinya.

Kerangka kerja pada teori ini menggambarkan penerapan proses keperawatan selalu berfokus pada pemenuhan kebutuhan individu yang unik dan merupakan bagian integral dari keluarga dan masyarakat.

3.       Teori persepsi

Perubahan dalam pemenuhan kebutuhan manusia sangat dipengaruhi oleh persepsi individu yang berbeda antara satu dengan yang lain. Hal ini akan membawa konsekwensi terhadap permasalahan keperawatan yang ditegakan pada setiap individu. Meskipun sumber masalah yang dihadapinya sama, akan tetapi setiap individu memiliki persepsi dan respon yang berbeda-beda. Misalnya, walaupun kedua pasien sama-sama terkena penyakit DM, akan tetapi permasalahan keperawatan yang dihadapi tidak mesti sama.

Untuk memahami arti persepsi, maka seseorang harus mengadakan pendekatan melalui karakteristik individu yang mempersepsikan dalam situasi yang memunyai makna bagi kita. Makna di sini mengandung arti penjabaran dari persepsi, ingatan, dan tindakan. Dengan demikian persepsi memiliki arti penting dalam kehidupan, dimana kira bisa mengumpulkan data dari informasi tentang diri sendiri, kebutuhan manusia, dan lingkungan sekitar.

Kondisi ini sesuai dengan tahapan dalam proses keperawatan dimana perawat dan klien mengumpulkan data.  Selanjutnya dari data tersebut akan diambil makna tertentu yang dapat digunakan dalam melakukan asuhan keperawatan. Proses tersebut dapat digambarkan sebagai berikut:

4.       Teori informasi dan komunikasi

Salah satu tujuan asuhan keperawatan adalah untuk mengetahui permasalahan yang dihadapi pasien. Oleh karena itulah perawat dituntut untuk memiliki pengetahuan tentang konsep dan teori sebagai dasar interaksi  dalam memahami informasi serta menjalin komunikasi yang efektif.

Kemampuan tersebut meliputi kemampuan mencari data, menyeleksi, memproses, dan memutuskan sebuah tindakan berdasarkan informasi tersebut.

Proses keperawatan merupakan sebuah siklus karena memerlukan modifikasi pengkajian ulang, perencanaan ulang, memperbaharui tindakan, dan mengevaluasi ulang. Dengan demikian asuhan keperawatan memerlukan informasi yang akurat, dan untuk melakukannya, seorang perawat membutuhkan kemampuan dalam melakukan komunikasi.

 

5.       Teori pengambilan keputusan dan penyelesaian masalah

Setiap tindakan yang rasional selalu disertai dengan keputusan atau pilihan. Sedangkan setiap pengambilan keputusan dan penyelesaian masalah menuntut kesedian orang yang terlibat agar mau menerima hal-hal baru dan perbedaan dari kondisi yang ada. Kesenjangan yang terjadi merupakan masalah yang membutuhkan jawaban serta solusi secara tepat.

Salah satu tujuan dari keperawatan adalah menyelesaikan masalah yang dihadapi klien. Melaui pendekatan proses keperawatan masalah-masalah yang dihadapi dapat diidentifikasi secara tepat dan keputusan dapat diambil secara akurat.

PENERIMAAN

FEEDBACK

PENGIRIM

PERENCANAAN

TINDAKAN

 

 
   

 Perbandingan antara pengambilan keputusan dan proses keperawatan dapat terlihat dalam tabel berikut ini:

 

Proses Pengambilan Keputusan

Proses Keperawatan

Pengumpulan data

Pengkajian:

·         Pengumpulan data

·         Interpretasi

Identifikasi masalah

Diagnosa keperawatan

Perencanaan

Perencanaan

·         Penentuan tujuan

·         Identifikasi solusi

·         Penentuan tujuan

·         Rencana tindakan

Implementasi

Implementasi

Evaluasi dan revisi proses

Evaluasi dan modifikasi

 

E.       Standar praktek keperawatan professional

Standar prakek keperawatan nasional merupakan pedoman bagi perawat Indonesia, baik generalis maupun spesialis di seluruh tatanan pelayanan kesehatan (RS, Puskesmas, dll) dalam melakukan asuhan keperawatan melalui pendekatan proses keperawatan.

Standar praktek keperawatan di Indonesia, sebagaimana telah dijabarkan oleh PPNI, mengacu pada tahapan dalam proses keperawatan yakni terdiri dari 5 standar antara lain: (1) pengkajian; (2) diagnosa keperawatan; (3) perencanaan; (4) implementasi; dan (5) evaluasi.

1.       Standar I: Pengkajian Keperawatan

Perawat mengumpulkan data tentang status kesehatan klien secara akurat, menyeluruh, singkat, dan berkesinambungan.

Kriteria Proses:

a.       Pengumpulan data dilakukan dengan cara wawancara, observasi, pemeriksaan fisik, dan mempelajari data penunjang (hasil lab, catatan klien lainnya)

b.      Sumber data terdiri dari sumber data primer dan sekunder. Sumber data primer berasal dari pengkajian langsung terhadap klien. Sedangkan sumber data sekunder berasal dari selain klien, misalnya: keluarga atau orang terkait, tim kesehatan, rekam medis, dan catatan lainnya.

c.       Data yang dikumpulkan, berfokus untuk mengidentifikasi:

1)      Status kesehatan klien saat ini

2)      Status kesehatan klien masa lalu

3)      Status fisiologis-psikologis-sosial-spiritual

4)      Harapan terhadap tingkat kesehatan yang optimal

5)      dll

2.       Standar II : Diagnosa Keperawatan

Perawat melakukan analisis terhadap data-data yang dikumpulkan selama pengkajian untuk menegakan Diagnosa Keperawatan.

Kriteria Proses:

a.       Proses diagnosa keperawatan terdiri dari: analisis, interpretasi data, identifikasi masalah klien, dan perumusan diagnosa keperawatan.

b.      Komponen diagnosa keperawatan terdiri dari:

·         P (Problem) à masalah

·         E (Etiology) à penyebab

·         S (Symptom) à tanda dan gejala

Akan tetapi terkadang hanya terdiri dari P dan E saja.

c.       Validasi diagnosa dilakukan dengan cara bekerjasama dengan klien dan berusaha untuk dekat dengan klien atau petugas kesehatan lain.

d.      Melakukan pengkajian ulang dan merevisi  diagnosa keperawatan berdasarkan data terbaru.

3.       Standar III : Perencanaan

Perawat membuat rencana tindakan keperawatan untuk mengatasi masalah dan meningkatkan kesehatan klien.

Kriteria Proses:

a.       Perencanan terdiri dari penetapan:

·         prioritas masalah

·         tujuan

·         rencana tindakan

b.      Melibatkan klien dalam membuat perencanaan keperawatan

c.       Perencanaan bersifat individual sesuai dengan kondisi dan kebutuhan klien saat itu

d.      Mendokumentasikan rencana keperawatan

4.       Standar IV : Implementasi

Perawat mengimplementasikan tindakan yang telah diidentifikasi dalam asuhan keperawatan.

Kriteria Proses:

a.       Bekerjasama dengan klien dalam pelaksanaan tindakan keperawatan

b.      Berkolaborasi dengan profesi kesehatan lain untuk meningkatkan kesehatan lain

c.       Melakukan tindakan keperawatan untuk mengatasi masalah kesehatan klien

d.      Melakukan supervisi terhadap tenaga pelaksana keperawatan dibawah tanggungjawabnya

e.      Menjadi coordinator pelayanan & advocator bagi klien dalam mencapai tujuan perawatan

f.        Menginformasikan kepada klien tentang status kesehatan dan fasilitasi-fasilitasi pelayanan kesehatan yang ada.

g.       Memberikan pendidikan pada klien & keluarga mengenai konsep keterampilan asuhan diri serta membantu klien memodifikasi lingkungan yang digunakan

h.      Mengkaji ulang & merevisi pelaksanaan tindakan keperawatan berdasarkan respon klien.

5.       Standar V : Evaluasi

Perawat mengevaluasi kemajuan klien terhadap tindakan dalam pencapaian tujuan dan merevisi data dasar serta perencanaan.

Kriteria Proses:

a.       Menyusun perencanaan evaluasi hasil terhadap intervensi secara komprehensif, tepat waktu dan terus menerus.

b.      Menggunakan data dasar dan respon klien dalam mengukur perkembangan ke arah pencapaian tujuan

c.       Memvalidasi dan menganalisa data baru dengan teman sejawat dank lien

d.      Bekerjasama dengan klien dan keluarga untuk memodifikasi rencana asuhan keperawatan

e.      Mendokumentasi hasil evaluasi dan memodifikasi perencanaan

 

Reference

Nursalam, 2001, Proses & Dokumentasi Keperawatan: Konsep dan Praktek, Salemba Medika, Jakarta.

SINDROME KOMPARTEMEN

Posted in Critical & Emergency Nursing on March 5, 2009 by masperawat

SINDROME KOMPARTEMEN

A.      Definisi

Syndrome kompartemen merupakan suatu kondisi dimana terjadi peningkatan tekanan interstitial dalam sebuah ruangan terbatas yakni kompartemen osteofasial yang tertutup. Sehingga mengakibatkan berkurangnya perfusi jaringan dan tekanan oksigen jaringan.

Kompartemen osteofasial merupakan ruangan yang berisi otot, saraf dan pembuluh darah yang dibungkus oleh tulang dan fascia serta otot-otot individual yang dibungkus oleh epimisium. 

Secara anatomik, sebagian besar kompartemen terletak di anggota gerak Berdasarkan letaknya komparteman terdiri dari beberapa macam, antara lain:

1.  Anggota gerak atas

     a.   Lengan atas : Terdapat kompartemen anterior dan posterior

     b.   Lengan bawah : Terdapat tiga kompartemen,yaitu: flexor superficial, fleksor profundus, dan ekstensor

2.   Anggota gerak bawah

     a.   Tungkai atas: Terdapat tiga kompartemen, yaitu: anterior, medial, dan posterior

     b.   Tungkai bawah

Terdapat empat kompartemen, yaitu: kompartemen anterior, lateral, posterior superfisial, posterior profundus

Syndrome kompartemen yang paling sering terjadi adalah pada daerah tungkai bawah (yaitu kompartemen anterior, lateral, posterior superficial, dan posterior profundus) serta lengan atas (kompartemen volar dan dorsal)

 B.      Etiologi

Terdapat berbagai penyebab dapat meningkatkan tekanan jaringan lokal yang kemudian memicu timbullny sindrom kompartemen, yaitu antara lain:

1.  Penurunan volume kompartemen

     Kondisi ini disebabkan oleh:

     ·    Penutupan defek fascia

     ·     Traksi internal berlebihan pada fraktur ekstremitas

2.    Peningkatan tekanan eksternal

       ·    Balutan yang terlalu ketat

      ·    Berbaring di atas lengan

      ·     Gips

3.     Peningkatan tekanan pada struktur komparteman

         Beberapa hal yang bisa menyebabkan kondisi ini antara lain:

          ·    Pendarahan atau Trauma vaskuler

          ·     Peningkatan permeabilitas kapiler

         ·     Penggunaan otot yang berlebihan

         ·      Luka bakar

         ·         Operasi

          ·         Gigitan ular

         ·         Obstruksi vena

Sejauh ini penyebab sindroma kompartemen yang paling sering adalah cedera, dimana 45 % kasus terjadi akibat fraktur, dan 80% darinya terjadi di anggota gerak bawah.

 

C.      Patofisiologi

Patofisiologi sindrom kompartemen melibatkan hemostasis jaringan lokal normal yang menyebabkan peningkatan tekanan jaringan, penurunan aliran darah kapiler, dan nekrosis jaringan lokal yang disebabkan hipoksia.

Tanpa memperhatikan penyebabnya, peningkatan tekanan jaringan menyebabkan obstruksi vena dalam ruang yang tertutup. Peningkatan tekanan secara terus menerus menyebabkan tekanan arteriolar intramuskuler bawah meninggi. Pada titik ini, tidak ada lagi darah yang akan masuk ke kapiler sehingga menyebabkan kebocoran ke dalam kompartemen, yang diikuti oleh meningkatnya  tekanan dalam kompartemen.

Penekanan terhadap saraf perifer disekitarnya akan menimbulkan nyeri hebat. Metsen mempelihatkan bahwa bila terjadi peningkatan intrakompartemen, tekanan vena meningkat. Setelah itu, aliran darah melalui kapiler akan berhenti. Dalam keadaan ini penghantaran oksigen juga akan terhenti, Sehingga terjadi hipoksia jaringan (pale). Jika hal ini terus berlanjut, maka terjadi iskemia otot dan nervus, yang akan menyebabkan kerusakan ireversibel komponen tersebut.

Terdapat tiga teori yang menyebabkan hipoksia pada kompartemen sindrom yaitu, antara lain:

a.       Spasme arteri akibat peningkatan tekanan kompartemen

b.      “Theori of critical closing pressure.”

           Hal ini disebabkam oleh diameter pembuluh darah yang kecil dan tekanan mural arteriol yang tinggi. Tekanan                  trans mural secara signifikan berbeda ( tekanan arteriol-tekanan jaringan), ini dibutuhkan untuk memelihara                      patensi aliran darah. Bila tekanan tekanan jaringan meningkat atau tekanan arteriol menurun maka tidak ada lagi             perbedaan tekanan. Kondisi seperti ini dinamakan dengan tercapainya critical closing pressure. Akibat                                  selanjutnya adalah arteriol akan menutup

c.       Tipisnya dinding vena

              Karena dinding vena itu tipis, maka ketika tekanan jaringan melebihi tekanan vena maka ia akan kolaps. Akan                       tetapi bila kemudian darah mengalir secara kontinyu dari kapiler maka, tekanan vena akan meningkat lagi                          melebihi tekanan jaringan sehingga drainase vena terbentuk kembali

 

McQueen dan Court-Brown berpendapat bahwa perbedaan tekanan diastolik dan tekanan kompartemen yang kurang dari 30 mmHg mempunyai korelasi klinis dengan sindrom kompartemen.

Patogenesis dari sindroma kompartemen) kronik telah digambarkan oleh Reneman. Otot dapat membesar sekitar 20% selama latihan dan akan menambah peningkatan sementara dalam tekanan intra kompartemen. Kontraksi otot berulang dapat meningkatkan tekanan intamuskular pada batas dimana dapat terjadi iskemia berulang.

 Sindroma kompartemen kronik terjadi ketika tekanan antara kontraksi yang terus – menerus tetap tinggi dan mengganggu aliran darah. Sebagaimana terjadinya kenaikan tekanan, aliran arteri selama relaksasi otot semakin menurun, dan pasien akan mengalami kram otot. Kompartemen anterior dan lateral dari tungkai bagian bawah biasanya yang kena

 

D.      Manifestasi Klinis

Gejala klinis yang terjadi pada syndrome kompartemen dikenal dengan 5 P yaitu:

1.         Pain (nyeri) : nyeri yang hebat saat peregangan pasif pada otot-otot yang terkena, ketika ada trauma langsung.                Nyeri merupakan gejala dini yang paling penting. Terutama jika munculnya nyeri tidak sebanding dengan                           keadaan klinik (pada anak-anak tampak semakin gelisah atau memerlukan analgesia lebih banyak dari biasanya).             Otot yang tegang pada kompartemen merupakan gejala yang spesifik dan sering.

2.       Pallor (pucat), diakibatkan oleh menurunnya perfusi ke daereah tersebut.

3.       Pulselesness (berkurang atau hilangnya denyut nadi )

4.       Parestesia (rasa kesemutan)

5.       Paralysis : Merupakan tanda lambat akibat menurunnya sensasi saraf yang berlanjut dengan hilangnya fungsi                   bagian yang terkena kompartemen sindrom.

 Sedangkan pada kompartemen syndrome akan timbul beberapa gejala khas, antara lain:

1.  Nyeri yang timbul saat aktivitas, terutama saat olehraga. Biasanya setelah berlari atau beraktivitas selama 20                  menit.

2.  Nyeri bersifat sementara dan akan sembuh setelah beristirahat 15-30 menit.

3.  Terjadi kelemahan atau atrofi otot.

  E.       Penegakan Diagnosa

Selain melalui gejala dan tanda yang ditimbulkannya, penegakan diagnosa kompartemen syndrome dilakukan dengan pengukuran tekanan kompartemen. Pengukuran intra kompartemen ini diperlukan pada pasien-pasien yang tidak sadar, pasien yang tidak kooperatif, seperti anak-anak, pasien yang sulit berkomunikasi dan pasien-pasien dengan multiple trauma seperti trauma kepala, medulla spinalis atau trauma saraf perifer.

Tekanan kompartemen normalnya adalah 0. Perfusi yang tidak adekuat dan iskemia relative ketika tekanan meningkat antara 10-30 mmHg dari tekanan diastolic. Tidak ada perfusi yang efektif ketika tekanannya sama dengan tekanan diastoli.

F.       Penanganan

Tujuan dari penanganan sindrom kompartemen adalah mengurangi defisit fungsi neurologis dengan lebih dulu mengembalikan aliran darah lokal, melalui bedah dekompresi. Walaupun fasciotomi disepakati sebagai terapi yang terbaik, namun beberapa hal, seperti timing, masih diperdebatkan. Semua ahli bedah setuju bahwa adanya disfungsi neuromuskular adalah indikasi mutlak untuk melakukan fasciotomi

Penanganan kompartemen secara umum meliputi:

1.       Terapi Medikal/non bedah

Pemilihan terapi ini adalah jika diagnosa kompartemen masih dalam bentuk dugaan sementara. Berbagai bentuk terapi ini meliputi:

          a.       Menempatkan kaki setinggi jantung, untuk mempertahankan ketinggian kompartemen yang minimal, elevasi                    dihindari karena dapat menurunkan aliran darah dan akan lebih memperberat iskemia

            b.      Pada kasus penurunan ukuran kompartemen, gips harus di buka dan pembalut kontriksi dilepas.

             c.       Pada kasus gigitan ular berbisa, pemberian anti racun dapat menghambat perkembangan sindroma                                          kompartemen

            d.      Mengoreksi hipoperfusi dengan cairan kristaloid dan produk darah

             e.      Pada peningkatan isi kompartemen, diuretik dan pemakainan manitol dapat mengurangi tekanan                                              kompartemen.                Manitol mereduksi edema seluler, dengan memproduksi kembali energi seluler yang                       normal dan mereduksi sel               otot yang nekrosis melalui kemampuan dari radikal bebas

2.       Terapi Bedah

            Fasciotomi  dilakukan jika tekanan intrakompartemen mencapai > 30 mmHg. Tujuan dilakukan tindakan ini adalah  menurunkan tekanan dengan memperbaiki perfusi otot.

Jika tekanannya < 30 mm Hg maka tungkai cukup diobservasi dengan cermat dan diperiksa lagi pada jam-jam berikutnya. Kalau keadaan tungkai membaik, evaluasi terus dilakukan hingga fase berbahaya terlewati. Akan tetapi jika memburuk maka segera lakukan fasciotomi. Keberhasilan dekompresi untuk perbaikan perfusi adalah 6 jam.

Terdapat dua teknik dalam fasciotomi yaitu teknik insisi tunggal dan insisi ganda.Insisi ganda pada tungkai bawah paling sering digunakan karena lebih aman dan lebih efektif, sedangkan insisi tunggal membutuhkan diseksi yang lebih luas dan resiko kerusakan arteri dan vena peroneal.

G.     Komplikasi

Sindrom kompartemen jika tidak mendapatkan penanganan dengan segera, akan menimbulkan berbagai komplikasi antara lain:

1.       Nekrosis pada syaraf dan otot dalam kompartemen

2.       Kontraktur volkman, merupakan kerusakan otot yang disebabkan oleh terlambatnya penanganan sindrom                          kompartemen sehingga timbul deformitas pada tangan, jari, dan pergelangan tangan karena adanya trauma pada             lengan bawa

3.       Trauma vascular

4.       Gagal ginjal akut

5.       Sepsis

6.       Acute respiratory distress syndrome (ARDS)

 

H.     Diagnosa keperawatan

1.       Nyeri akut bd agen injuri fisik/kimiawi

2.       Ketidakepektifan perfusi jaringan perifer bd gangguan aliran darah arteri

 

Referensi

Irga, 2008, Sindroma Kompartemen, dilihat 12 November 2008, http://www.passangereng.blogspot.com

NANDA, Nursing Diagnoses: Definitions & Classification 2001-2002 , Philadelphia

WELCOME MY BROTHER

Posted in Critical & Emergency Nursing on March 3, 2009 by masperawat

Welcome to WordPress.com. This is your first post. Edit or delete it and start blogging!

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.